Rabu yang cerah di atas kampus “Inovasi” Universitas Widyagama Malang pada Rabu (19/10/2016), secerah warna jas almamater para mahasiswa Universitas (Negeri) Tidar Magelang. Hari itu rombongan besar yang berjumlah 77 orang tersebut diterima langsung oleh Rektor Universitas Widyagama Malang, Prof. Dr. Ir. Iwan Nugroho, MS di Ruang F-9 Kampus II Universitas Widyagama Malang. Namun sebelum itu Rektor beserta para Wakil Rektor UWG (Prof. Dr. Ir. Sukamto, MS, Dra. Yekti Intyas Rahayu, MS dan Dr. Agus Tugas, ST, MT) menerima pimpinan rombongan di Ruang Rektor.
Dalam sambutan maksud dan kunjungan, rombongan yang dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Bambang Kuncoro, MSi, menyampaikan bahwa tujuan kunjungan adalah studi banding terkait dengan bidang kemahasiswaan, khususnya pola pembinaan, peningkatan prestasi, dan organisasi kemahasiswaan.
Road show perjalanan kunjungan rombongan ini diawali dengan ke Universitas Sebelas Maret Solo, dilanjutkan dengan ke Universitas Widyagama dan diakhiri dengan kunjungan ke Universitas Brawijaya Malang.
Rombongan besar ini terdiri dari 33 orang dosen dari lima fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik beserta 44 orang mahasiswa yang mewakili Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Kami memiliki 17 UKM”, demikian tambah Xander Salahudin, ST, MEng, salah satu dosen dari Fakultas Teknik yang mendampingi para mahsiswa tersebut.
Dalam sambutan penerimaan, Iwan Nugroho menyampaikan cerita tentang Kota Malang sebagai salah satu Kota Pendidikan dan Wisata, juga bercerita tentang Universitas Widyagama Malang yang juga memiliki “saudara” yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widyagama Lumajang dan Universitas Widyagama Mahakam di Samarinda. “Identitas ilmiah kami adalah Go Research and Entrepreneurship University. Ada persamaan visi antara UWG dan UTM, yaitu orientasi lembaga pada riset dan kewirausahaan. Perkembangan terbaru, kami sudah memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP),” demikian Iwan Nugroho.
Karena universitas yang baru dua tahun berubah status dari swasta ke negri baru saja menerima hibah COOP, maka diskusi pokok yang dilakukan pada hari itu adalah terkait dengan Pusat Pengembangan Karir (P2K) yang di UWG dikomandani oleh Dra. Wiwin Purnomowati, MSi yang juga adalah Direktur LSP UWG. Dengan semangat berapi-api, Wiwin Purnomowati menyampaikan bagaimana UWG mengelola hibah COOP yang kemudian dianggap berhasil oleh Dikti dengan diundangnya UWG menjadi salah satu tim perumus program hibah tersebut.
Diskusi menarik kemudian berkembang setelah Wiwin Purnomowati menyampaikan presentasi tentang Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Tidak heran, karena LSP ini baru dimiliki oleh beberapa lembaga, baik perguruan tinggi ataupun lembaga lain non pendidikan. Di Kota Malang, baru ada empat lembaga pendidikan tinggi yang memiliki LSP.
Kembali kepada program P2K, ada pertanyaan menggelitik yang datang dari salah satu dosen Bahasa Inggris:” Terkait dengan mahasiswa dari Program Studi Bahasa Inggris, bentuk atau contoh kewirausahaan apa yang dapat dilakukan oleh para mahasiswa?”. Dengan ramah Wiwin menjawab, bahwa yang dapat dibisniskan itu bukan hanya produk fisik, produk non fisikpun dapat dibisniskan, seperti misalnya membuka lembaga kursus, menjadi tour guider dan lain sebagainya.
Diskusi antara kedua perguruan tinggi ini dikawal langsung oleh Rektor UWG karena ternyata ada beberapa diskusi penting terkait dengan pengelolaan dan pembinaan kemahasiswaan. Acara yang berlangsung gayeng ini diakhiri dengan saling bertukar cinderamata dan foto bersama. (san/pip/red:rita)



