(UWG, 06/04/2018). Tempe identik dengan Kota Malang, tidak ada yang menyangkal. Kripik tempe sudah menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Malang. Produk berbahan dasar kedelai kaya protein ini menjadi inspirasi Riska Suryanti Putri membuat proposal PKMT (Program Kreatifitas Mahasiswa Penerapan Teknologi).
“Saya ingin membantu pengrajin kripik tempe untuk mempermudah proses pembuatan tempe, yang biasanya memakan tempat dan butuh waktu cukup lama,” demikian Riska memulai wawancara. “Saya akan buatkan sebuah alat yang nantinya akan dapat meningkatkan produksi tempenya,” imbuhnya.
Bersama empat orang temannya: Muhammad Ifan Fanani, Irfan Indra, Eka Purna Okta dan Kris Inur Firman Sugiarto, mahasiswa Teknik Elektro ber IPK 3.94 putri sulung Suryadi Sutiawan ini kemudian mulai berdiskusi. Dengan bimbingan Dr. Istiadi, ST, MT, jadilah proposal PKMT dengan judul Sistem Kendali Otomatis Fermentasi Tempe Silindris.
Penentuan rangkaian sistem kontrol otomatis yang sangat peka terhadap suhu dan ukuran alat sempat menjadi kendala rancangan alat yang merupakan implementasi teknologi ini. Akan tetapi dengan suntikan motivasi dari Istiadi, semua kendala dapat diatasi. “Sembilan pengusul program ini dari Prodi Teknik Elektro rata-rata adalah mahasiswa tingkat akhir. Dari sembilan usulan Prodi Teknik Elektro, hanya dua yang lolos didanai. Meskipun jauh hari sudah dilakukan sosialisasi, masih agak sulit memancing motivasi mereka. Konversi PKM bila masuk PIMNAS dengan penelitian untuk skripsi yang menjadi kebijakan rektor rupanya belum menarik perhatian mereka,” demikian penjelasan dosen Teknik Elektro yang menjadi kepala UPT PDPT di Kampus Inovasi ini.
Gadis 20 tahun yang aktif diberbagai ormawa ini (Robotik, UKM PKM, Futsal, Forkisma, Imapeba dan HME) bertekad segera take action dan bekerja secara tim. “Lolos PIMNAS adalah target kami. Tetapi lebih daripada itu kami berharap dapat membantu mitra ukm kripik tempe untuk meningkatkan usahanya.” (san/pip/red:rh)



