HIJRAHNYA MANUSIA BERTATTO DI UWG

oleh | Mei 27, 2018 | Berita | 0 Komentar

(UWG, 27/05/2018). Kampus Inovasi Universitas Widyagama Malang memang kreatif dan inovatif. Silaturahmi dalam kemasan buka puasa bersama sudah jamak dilakukan pada bulan penuh berkah ini. Ada acara tausyahpun, ditempat lain juga dilakukan. Yang berbeda adalah pengisi tausyah. Bukan ustadz terkenal atau pemuka agama populer.

Komunitas Bertatto, inilah yang dihadirkan oleh BEM FH ke kampus lll UWG pada Jum’at, 25 Mei 2018 lalu. Acara yang dilabeli “Hijrahnya Manusia Bertatto” ini diselenggarakan di selasar Fakultas Hukum, dan dihadiri lebih dari 100 mahasiswa dari internal UWG (BEM Fakultas Teknik, HMJ Mesin, HMJ Sipil, HMJ THP, HMJ Akuntansi) maupun dari eksternal diantaranya Unisma, dan Lembaga Pers Mahasiswa UM.

Dekan FH UWG, Dr. Purnawan D Negara, SH, MH, yang membuka acara dengan konsep lesehan tersebut menyambut bangga ide kreatif mahasiswanya. “Allah punya kuasa membolak-balik hati manusia. Kalau memang ada niatan tulus dari manusia untuk berubah ke arah yang lebih baik, dan Allah mengijinkan, maka terjadilah. Hidayah akan turun kepadanya,” demikian antara lain isi sambutannya.

Yansafaraz (ex Yatto Artist), Ketua Komunitas Bertatto, yang sore itu berbusana islami, dalam sharingnya antara lain menyampaikan ungkapan terima kasihnya diberikan kesempatan bersilaturahmi dengan para mahasiswa. “Dulu kami dipandang sebelah mata karena tatto yang ada hampir di seluruh tubuh kami. Komunitas kami diidentikkan dengan pelaku kriminal. Saat itu kami tidak ambil pusing dengan apa kata orang. Tetapi sejalan dengan waktu, timbul kesadaran dalam diri kami, bahwa kondisi ini tidak sehat dalam perjalanan hidup kami. Kami ingin hidup wajar ditengah masyarakat. Perlahan namun pasti, kami mulai mengadakan perubahan. Alhamdulillah, Allah mengijabahi niatan kami dan menurunkan hidayah-Nya. Sejak itulah kami berhijrah. Bertatto bagi kami sejak itu harus diartikan sebagai BERsama TAaT dan Tobat,” demikian antara lain Yan berkisah.

Lukisan permanen yang melekat di tubuhnya, di beberapa tempat dibiarkan tetap ada sebagai pengingat akan lakon hidupnya di masa lalu, meskipun sekarang ada cara untuk menghapusnya.

Sharing Komunitas Bertatto ini didengarkan dengan penuh perhatian oleh para mahasiswa yang hadir. Beberapa pertanyaan dilontarkan yang segera dijawab dengan senang hati oleh Yan dan komunitasnya.

Ketua BEM FH, Rizal Syahru Romadhon, mengaku mendapatkan pelajaran berharga dengan mendatangkan Komunitas Bertatto ini di kampusnya. “Tekad untuk menjadi warga negara yang bermanfaat dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat semakin kuat terpateri di dada saya. Saya tidak ingin kehilangan kesempatan ini,” begitu tekadnya.

Acara berbagi pengalaman hidup ini diakhiri saat kumandang adzan maghrib menggema. Setelah membatalkan puasa, dengan semangat Yan mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu sebelum menikmati hidangan buka puasa. Komunitas Bertatto yang hadir melanjutkan diskusi dengan mahasiswa dan bahkan mereka shalat tarawih berjamaah di Masjid Al Farabi Kampus lll Universitas Widyagama (rh)

Berita Terbaru UWG