Jum’at, 24/2/2017. 45 tahun bukan waktu yang singkat. Ibarat manusia, usia ini adalah usia setengah baya (middle age) dimana seseorang mengalami pubertas kedua yang antara lain dicirikan dengan senang bersolek, suka bersikap dan berbuat emosional, mudah marah dan bahkan, bukan tidak mungkin, jatuh cinta lagi. Bagaimana dengan Universitas Widyagama Malang?
Awalnya, Yayasan Pembina Pendidikan Indonesia (YPPI) mendirikan Akademi Bank Widyagama Malang pada 24 Februari 1971. Tiga tahun kemudian, didirikan Akademi Manajemen Widyagama Malang dan enam tahun setelah itu didirikan pula Akademi Akuntansi Widyagama Malang, tepatnya pada tahun 1980. Menyesuaikan kebutuhan masyarakat akansarjana lengkap, maka pada 19 September 1981 ketiga akademi ini dimerger menjadi Institur Ekonomi dan Manajemen Widyagama, dan tahun 1984 merubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widyagama. Tanggal 1 Januari 1985 YPPI mengembangkan STIE Widyagama menjadi Universitas Widyagama Malang, dengan empat fakultas dengan sembilan program studi. Saat ini jumlah program studi bertambah menjadi 15 program studi, dengan Rektor Prof. Dr. Ir. Iwan Nugroho, MS dan para wakil rektor terdiri dari Prof. Dr. Ir. Sukamto, MS (WR I), Dra. Yekti Intyas Rahayu, MM (WR II) dan Dr. Agus Tugas Sudjianto, ST, MT (WR III).
Pubertas kedua yang terjadi pada lembaga ini semata-mata karena tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan pasar pendidikan yang sejalan dengan waktu terus bertumbuh dan berkembang. Mempersolek diri dilakukan baik secara fisik dan non fisik. Mempercantik “rumah” terus dilakukan, perlahan tapi pasti. Lebih dari itu meningkatkan kualitas SDM agar dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, baik itu pelayanan administrasi maupun akademik.
Bersikap emosi dan mudah marah, kadang tidak dapat dipungkiri. Oleh siapa saja…. Dari level bawah sampai dengan level pimpinan. Itu hal yang amat sangat wajar. Manusia punya sifat hakiki yang tidak pernah merasa puas. Semua ini adalah bagian dari dinamika dan long life education process. Yang patut disyukuri adalah bahwa itu semua masih dalam koridor kewajaran.
Jatuh cinta? Ya….. memang pernah dirasakan….. Sempat ada lirikan tajam ke beberapa program studi baru yang dirasakan terlihat lebih seksi. Tetapi ternyata kecintaan terhadap “keluarga yang lama” masih begitu kuatnya sehingga sempat bertepuk sebelah tangan. Ini adalah tantangan, yang pada suatu saat nanti harus ada jawaban yang lebih tegas.
Selamat berhari jadi Universitas Widyagama Malang.
Teruslah berinovasi demi kejayaan negeri.(san/pip/red:rita)
Korban dalam dua sisi: Analisis Viktimologi terhadap Efek Berlapis Perundungan Luring dan Siber serta Tantangan Penologi dalam Menentukan Sanksi
Oleh Brian Arnold Setiawan, Dr. Ibnu Subarkah, S.H., M. Hum. Fakultas Hukum, Universitas Widya...



