ORA KULAKAN TAPI ISO DODOL LARANG…ITULAH BONSAI

oleh | Mei 13, 2017 | Berita | 0 Komentar

UWG (12/5/2017). Hari kedua Pameran Bonsai Goes to Campus dan Kontes Bonsai Tahun 2017 diisin dengan acara workshop dan demo bonsai oleh para pakar. Acara yang digelar di halaman kampus 2 Universitas Widyagama Malang ini berakhir hingga jam 17.00 WIB.

Bertindak sebagai pemateri pada workshop adalah Ir. Warsito, Antonius Tjahjo Karjono Gembjak dan Dr. Ir. Ririen Prihandarini, MS. Sementara itu demo membuat bonsai bagi pemula disampaikan oleh Agus Sunarko.

Warsito, mantan konsultan jalan dan jembatan Jawa Timur, yang mulai menggeluti bonsai sejak tahun 1986 ini menyampaikan paparannya tentang Sejarah Bonsai. Penasihat PPBI (Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia) Cabang Kota Malang ini menyampaikan bahwa dunia bonsai ini bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi bagi pelakunya bila ini dilakukan secara serius, mumpuni dan konsisten. “Ora kulakan tapi iso dodol larang,” demikian Warsito menyampaikan dalam Bahasa Jawanya yang medok. “Apalagi bila bakalannya didapat dari alam….,” imbuhnya.

ATK Gembjak, pria berambut panjang yang sebagiannya sudah memutih ini, banyak bercerita tentang seni bonsai. Meskipun seni itu adalah bagian dari kreatifitas manusia, akan tetapi ada pakem-pakem yang harus ditaati manakala bonsai ini akan dikonteskan. “Sebagaimana kehidupan, ketidakseimbangan akan terasa menyakitkan,” demikian ungkapnya saat menjelaskan bagaimana seni agar bonsai terlihat seksi dan bernilai ekonomi tinggi.

“Agar pertumbuhan bonsai tidak cepat, maka pupuk yang paling tepat digunakan adalah pupuk organik,” demikian jelas Ririen, pakar pertanian organik yang juga Dosen Fakultas Pertanian Kampus Inovasi ini dalam paparannya. Ririen juga menjelaskan jenis-jenis tanaman apa saja yang dapat dijadikan bakalan bonsai.

Setelah istirahat Shalat Jumat, acara dilanjutkan dengan demo bonsai bagi pemula, yang disampaikan oleh Agus Sunarko. Pak Agus, demikian dia biasa disapa, bukan orang asing fi kalangan PPBI. Tapi cukup membuat decak kagum bagi masyarakat awam. Betapa tidak, pria penyandang difabilitas ini ternyata adalah trainer bonsai tingkat internasional.

Dengan pengalamannya di Belanda, Jerman, Jepang dan lain-lain, pria berkulit gelap asal Singosari ini begitu trampil memainkan alat-alat dan 5 macam kawat untuk membuat bonsai. “Meskipun bonsai ini dapat dinikmati dari berbagai sisi, tetapi tetap harus ada fokus pandang pada satu sisi, yaitu bagian depan,” demikian ujarnya sambil tangannya yang tak henti bekerja.

Demo ini begitu menarik perhatian pengunjung dengan indikator tak hentinya pertanyaan yang dilontarkan. Ir. Warsito, sang penasihat PPBI, dengan telaten mambantu Agus menjawab pertanyaan dari para peminat demo. (san/pip/red:rita)

Berita Terbaru UWG