800×600
Normal
0
false
false
false
IN
X-NONE
X-NONE
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Widyagama (UWG) melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap kegiatan Pengabdian Masyarakat (Iptek bagi Masyarakat, IbM) para dosen yang dibiayai program hibah DP2M Dirjen Dikti, Jakarta. Monev merupakan salah satu upaya melaksanakan standar mutu agar tujuan IbM berjalan sesuai dengan rencana, serta menjamin kemanfaatannya bagi masyarakat pengguna.Â
Pada hari Senin, 7 Oktober 2013, Tim monev mengunjungi dua lokasi yakni di desa Sembung Barat, kecamatan kota, Tulungagung dan desa Kaliombo, kecamatan Ngronggo, kota Kediri. Rektor Prof Iwan Nugroho turut dalam tim monev LPPM yang diketuai Prof Sukamto.  Selain menyaksikan monev, Rektor akan menyerahan hasil pengabdian secara resmi kepada masyarakat mitra di tempat pengabdian berupa alat, mesin  atau teknologi tepat guna. Â
Di Tulungagung, tim monev mengunjungi masyarakat mitra usaha krupuk rambak milik bapak Heri. Usaha pak Heri sudah maju, meliputi pembuatan rambak, penggorengan, pengemasan, dan usaha toko, dengan omset 60 juta rupiah per bulan. Ketua pengabdi IbM rambak ini, Candra Aditya, menyatakan bahwa timnya mengembangkan perangkat presto untuk memasak bahan baku kulit sapi. Alat presto berkapasitas 30 kg tersebut menggunakan biaya energi sebesar 10 persen, dengan waktu pemasakan hanya 8 persen dibanding teknologi sebelumnya. Alat senilai 10 juta rupiah ini diharapkan memberikan sumbangan teknologi kepada masyarakat usaha rambak di Tulungagung dan sekitarnya.  Di akhir monev, Rektor menyerahkan secara simbolik alat presto kepada masyarakat dengan harapan agar dapat memanfaatkan, memelihara atau mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Rektor dalam sambutannya menyatakan apresiasi atas IbM ini, masyarakat punya hak untuk meniru, memodifikasi atau merubah alat tersebut karena ini merupakan sumberdaya publik (milik negara), yang kebetulan dikembangkan atas usul dosen Universitas Widyagama.Â
Monev di kota Kediri mengunjungi usaha alat peraga edukasi (APE) Lazuardi. Ketua tim IbM APE Aji Suraji menyatakan bahwa timnya menyumbangkan peralatan teknologi bubut kayu dan disain website untuk mendukung pemasarannya. Di antara alat yang disumbangkan adalah gergaji listrik dan paku bertekanan, yang dapat meningkatkan presisi, kenyamanan dan kekuatan peraga, sehingga sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan anak-anak. Usaha APE mengembangkan peraga berbahan kayu untuk pendidikan usia dini (PAUD), taman kanak kanak (TK) atau usia bermain, dengan permintaan hingga wilayah Jawa Timur. Dengan APE, anak-anak dibantu mengembangkan potensinya untuk memanfaatkan kognitif, afektif dan psikomotorik, serta kehidupan sosialnya melalui peraga beragam alat permainan kayu yang aman dan sehat.  Â
Pelaksanaan monev berjalan dengan baik. Kehadiran Rektor dalam monev IbM merupakan yang pertama kali sejak para dosen menunjukkan tingginya gairah dan minat menyusun proposal IbM. Hal ini juga menunjukkan komitmen Universitas untuk mendorong para dosen menjadi peneliti dan pengabdi yang berkualitas dan berkontribusi nyata dan bermanfaat kepada masyarakat.  Format monev pengabdian ini hampir menyerupai format kunjungan Rektor dalam Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM). Standar prosedur ini menjadi bukti komitmen untuk memperbaiki mutu kegiatan-kegiatan LPPM. Ikut menyertai tim monev adalah Sekretaris LPPM Wahyu Wulandari, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Candra Aditya, dan Kepala Unit Informasi Alfiana.Â





