5 Pengusaha Hadir di UWG Dalam EMPOWERFESTIVAL ‘LET’S GO GLOBAL”

by | May 23, 2016 | Berita | 0 comments

Sabtu (14/05), Bertempat di Hall Widyagraha Universitas Widyagama Malang, 5 Pengusaha Muda mengisi seminar yang bertajuk Empowerfestifal “Let’s Go Global”. Kelima pengusaha muda tersebut diantaranya Azrul Ananda (CEO Jawa Pos Group), Nilam Sari (founder Kebab Turki Baba Rafi), Salman Subakat (Owner Wardah Kosmetik), Goris Mustaqim (founder Asgar Muda Foundation0 dan John Dahlsen, International Eco Artist yang berhasil menembus pasar Australia, Eropa, dan Amerika.

IMG_1388Kelima pengusaha tersebut berbagi motivasi dalam membangun bisnis yang digelutinya. Di Sesi Pertama, ada 3 pembicara yaitu Salman, Goris dan Nilam. Kesempatan pertama di berikan kepada Salman yang menceritakan bagaimana membranding Wardah menjadi Perusahaan Kosmetik Nasional No 1, dengan usaha yang keras dan tim yang luar biasa, pertumbuhan usaha wardah sangat bagus, bahkan mencapai lebih dari 50%. Sementara Goris dikesempatan kedua, memberikan motivasi kepada peserta seminar untuk terus berkarya sesuai dengan kapasitasnya. Goris yang membangun bisnis sosial empowerment sangat tertantang untuk dapat mengajak semua anak muda untuk selalu berkarya. Pada kesempatan Ketiga, Nilam, kelahiran Jakarta, 25 November 1981 ini bersama suaminya Hendy Setiono, membangun bisnis Babarafi pada usia 19 tahun dari 1 outlet di Surabaya hingga memiliki 1200 lebih outlet di seluruh dunia. Perjalanan bisnis pasangan muda ini terbilang sangat pesat, meskipun naik turun bisnis selalu mereka alami. Prinsipnya masalah harus diselesaikan, jangan pernah lari dari masalah.

IMG_1432Di Sesi Kedua, peserta seminar tetap bertahan karena yang datang adalah Bos Jawa Pos Group Azrul Ananda. ”Siapa yang berani mengatakan koran akan mati, ayo silakan angkat tangan. Yang berani, ayo taruhan saham dengan saya,” tantang Azrul Ananda, CEO PT Jawa Pos Koran kepada audiens

Mendapat tantangan dari bos Jawa Pos, dari sekitar 400 orang yang hadir,  hanya satu yang berani angkat tangan. Yakni audiens yang berada di deretan kedua. Namun ketika diajak taruhan saham oleh Azrul, audiens itu langsung membatalkan.

Azrul sedang tidak bercanda. Dia menegaskan jika masa depan koran masih sangat panjang. Kepungan media online yang begitu deras, tidak akan mampu membunuh koran. Dia menunjukkan data bahwa berdasar hasil survei Roy Morgan (lembaga survei media tepercaya di Indonesia) pada 2015 lalu, untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya, penetrasi koran terhadap pembaca masih 50 persen. Sedangkan penetrasi internet (media online) hanya 33 persen.

Lantas kenapa kepercayaan pembaca pada media online menurun? Menurut Azrul, media online terlalu banyak bermain judul yang memukau. Namun, kualitas konten beritanya  tidak bagus. Hal ini yang dia sebut membuat para pembaca tidak memercayai media online. Apalagi, banyak sekali berita yang disajikan media itu hanya copy paste saja. ”Sebab, media online tidak punya banyak wartawan. Bagaimana bisa menggaji wartawan karena sisi bisnisnya juga tidak jalan,” ungkap putra Dahlan Iskan,  mantan Menteri BUMN ini.

IMG_1383Di Sesi terakhir, John Dahlen memberi inspirasi bagi semua peserta seminar yang hadir, bahwa barang bekas mempunya nilai ekonomis yang tinggi jika kita bisa memberikan nilai tambah. Barang Bekas dari sampah di laut mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Dalam presentasinya, ditunjukan Video dan Foto-foto karya John Dalsen. (san/pip/red:ana)

Berita Terbaru UWG