(UWG, 30/11/2017). Karst adalah suatu wilayah kering yang mengesankan kawasan tidak subur/gersang, namun merupakan tempat menyimpan air yang kaya. Kawasannya memang berbatu-batu atau pegunungan pegunungan yang terdiri dari batu gamping namun secara ekologis memunculkan karakteristik bentang alam yang khas sebagai akibat adanya proses pelarutan batuan oleh air. Kini akibat perkembangan pemukiman penduduk di daerah-daerah ini dan tingginya tingkat pencemaran serta perusakan lingkungan, kawasan yang mudah rusak ini semakin hilang dari muka bumi Nusantara ini.
Acara yang berlangsung di teras FH Kampus Inovasi ini, tidak hanya menampilkan pemantik internal si cantik Tia Wulandari (BEM FH), tetapi juga dari eksternal yaitu Muchsin Hidayat (pemerhati lingkungan) dan Bambang Parianom (Pusaka Foundation).
Hujan gerimis yang setia mengiringi datangnya malam tidak menyurutkan antusiasme para peserta untuk mengikuti diskusi hingga usai. Sambil mendengarkan paparan para pemantik, suguhan kopi panas dan pisang goreng yang diadakan secara mandiri oleh para peserta menambah gayeng diskusi ini.
“Menjaga Karst Menjaga Kehidupan, itu yang saya ingatkan kepada para mahasiswa sebagai bagian dari pengelola sumberdaya alam ini, langsung maupun tidak langsung,” ujar Drs.
Ramadhana Alfaris, MSi, selaku Pembina BEM FH yang tak pernah berhenti memotivasi para mahasiswa untuk terus bersikap kritis tapi positif.
Pada akhir diskusi, Tia, mahasiswi yang pernah tampil di ajang PIMNAS ini menyampaikan simpulan diskusi: “Perlu pengelolaan yang berkelanjutan terhadap kawasan karst ini dengan mengetengahkan prinsip-prinsip manajemen sumber daya alam yang terencana, optimal dan bertanggungjawab. Untuk mengurangi tingginya perusakan, diperlukan wawasan mengenai lingkungan hidup ekosistem karst secara menyeluruh, termasuk perubahan cara pandang dari seluruh komponen, terutama para pengambil kebijakan” (san/pip/red:rh).




