TIA PERTAHANKAN TANAMAN OBAT SUKU TENGGER

by | Apr 5, 2018 | Berita | 0 comments

(UWG,  04/04/2018). Belakangan ini marak gaya hidup back to nature dengan mengkonsumsi segala sesuatu yang berbau herbal, baik untuk asupan gizi maupun obat-obatan. Fenomena ini ditangkap oleh Tia Wulandari, dara manis kelahiran Banjarbaru, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang semester enam. Tak tanggung-tanggung, lokasi tanaman herbal yang dibidik adalah daerah Tengger.

“Wilayah ini dengan pemandangan indah Bromonya, sering dikunjungi wisatawan asing. Rupanya mereka tidak hanya menikmati keindahan alamnya, mereka juga tau bahwa di daerah cagar budaya ini banyak tumbuh aneka tanaman yang diantaranya dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Mereka mengambilnya tanpa ijin dan kemudian mengembangkan di negaranya dan mengklaim bahwa tanaman tersebut adalah tanaman asli negaranya,” ujar Tia dengan ekspresi kegeraman yang tidak dapat ditutupi dari wajah cantiknya. “Ini tidak bisa dibiarkan. Wilayah Tengger dengan segala budayanya harus mendapat perlindungan dari berbagai sisi,” tambahnya.

Dengan menggandeng Wahyu Nur Arifin dan Krisna, Tia menemukan pembimbing yang tepat untuk proposal PKM PSH nya, yaitu Dr. Purnawan Dwikora Negara, SH, MH, pegiat lingkungan yang juga Dekan Fakultas Hukum Kampus Inovasi UWG. “Saya agak kesulitan mencari bahan dan peraturan daerah yang mengatur lebih detil mengenai perlindungan hukum terhadap tanaman obat ini,” cerita gadis ber IPK 3.95, putri bungsu pasangan Imam Maskoed dan Yetriani Migang yang hobi basket ini.

Bimbingan Pupung (demikian Purnawan DN lebih dikenal), berhasil mengantarkan Tia lolos seleksi dengan judul gagasannya Perlindungan Hukum terhadap Etnofarmakologi Tanaman Obat Suku Tengger dari Biopiracy bagi Kepentingan Industrialisasi Farmasi. Setelah pengumuman lolosnya gagasan ini, langkah yang akan diambil oleh Tia dan timnya adalah mempersiapkan bahan dan mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk menindaklanjuti PKM PSH (Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian Sosial Humaniora) nya. Dara tinggi semampai yang pernah merasakan PIMNAS ini berharap ilmunya dapat bermanfaat khususnya untuk masyarakat Suku Tengger dan kita semua tergerak untuk ikut menjaga tanaman obat yang menjadi bagian dari kekayaan hayati Bumi Nusantara ini. (san/pip/red:rh)

 

Berita Terbaru UWG