Pada hari Rabu, 12 Februari 2014, menjadi hari yang bersejarah bagi kampus Universitas Widyagama Malang. Mengapa? Hari itu, Rektor menandatangani prasasti pembangunan tandon air di suatu tempat yang jauh, pada titik koordinat 8.0824 LS dan 112.8408 BT, masuk hulu sungai Lesti, masuk wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, di kaki gunung Semeru. Prasasti itu adalah penanda sejarah, bagi aktivitas dan peran kampus yang membangun tandon air di tempat tersebut. Tandon tersebut menjadi sumber air bagi warga dusun Suko Sari, desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo. Tandon terletak sejauh 5 km dari dusun, dan berada di hulu sungai, dan mengalir ke pemukiman penduduk secara gravitasi
Awalnya bangunan tandon berupa cekungan terbuka semi permanen yang menampung air sungai. Tandon darurat itu, selalu rusak dan tersumbat ketika hujan deras dan air melimpah. Tandon kemudian dibangun (atau dipugar) dalam kerangka program pengabdian masyarakat (IbM) Dr. Agus Tugas Sujianto, tahun 2013, yang dibiayai DP2M Dikti. Tandon berukuran 3 x 3 m dan kedalaman 2 m, dibangun dengan konstruksi permanen beton tertutup, dilengkapi dengan filter air dan bak kontrol. Tandon menyalurkan air melalui pipa menembus hutan dan bukit sejauh 5 km menuju dusun Sukosari (output debit 10 liter per detik). Di pemukiman sudah tersedia bangunan dan tandon pembagi yang mensuplai ke rumah-rumah penduduk.
Menurut kepala dusun Sukosari, penduduk merasa bersyukur atas keberadaan tandon ini. Suplai air menjadi lebih lancar, dan lebih jernih. Hal ini diharapkan akan meningkatkan mutu kehidupan dan ekonomi penduduk dusun Sukosari. Dengan debit air lebih tinggi, Dusun masih memiliki tugas untuk mengorganisasikan distribusi air ke semua pemukiman. Hal ini juga menjadi kegiatan IbM Dr. Agus Tugas untuk memberikan pembinaan organisasi pemakai air. Dusun juga sedang mengusulkan ke pemerintah untuk membantu pipa-pipa distribusi yang menyalurkan ke tiap rumah. “Semoga kegiatan ini menjadi amal jariah kampus” kata pak Kasun.
Untuk menuju lokasi peletakan prasasti, rombongan Rektor harus berjalan kaki menyusuri sungai, naik, melawan arus air sejauh sekitar 1.5 km. Rombongan terdiri Rektor, Wakil Rektor, Dekan FH, Prof. Sukamto (kepala LPPM), Wahju Wulandari (sekr LPPM), Candra Aditya (Kapuslit), dan Rita Hanafie (Kajur Agribisnis) dan Alfiana (PIP). Ikut dalam rombongan adalah mahasiswa yang sedang melaksanakan KPM (kuliah pengambdian masyarakat) di dusun Sukosari. (in)






