Setelah selama satu bulan berada di tengah-tengah masyarakat Kecamatan Pakis, Minggu 4 September 2016, Rektor Universitas Widyagama Malang menarik pulang kembali ke kampus para mahasiswa yang melakukan program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) gelombang kedua tahun 2016, karena minggu depan perkuliahan akan dimulai. Peserta KPM gelombang kedua ini ditempatkan ditempatkan di Dusun Pulesari Desa Tirtomoyo dan Dusun Tegal Pasangan Desa Pakis Kembar. Dalam kunjungan ini, Rektor Universitas Widyagama Malang (Prof. Dr. Ir. Iwan Nugroho, MS) didampingi oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Candra Aditya, ST, MT dan para dekan di ingkungan Universitas Widyagama Malang, yaitu Dr. HM Sodik, SE, MSi (Dekan Fakultas Ekonomi), Ir. Fakhrudin, MT (Dekan Fakultas Teknik), dan Ir. Suprihana, MP (Wakil Dekan Fakultas Pertanian. Ikut pula dalam rombongan tersebut Ketua Pusat Penelitian (Ir. Elik Murni NN, MP), Sekretaris LPPM (Dra. Wahju Wu;landari, MM) dan Ketua Badan Penjaminan Mutu (BPM), Dr. Adya Hermawati, SE, MM. Tak ketinggalan, pembimbing lapangan Anis Qustoniah, ST, SE, MT.
Beretempat di Balai Desa Tirtomoyo, rombongan Rektor UWG diterima dengan hangat oleh Kepala Desa Tirtomoyo. “Baru kali ini, sepanjang pengalaman saya, mahasiswa dikunjungi langsung oleh rektornya di lokasi KPM. Di perguruan tinggi lain, biasanya yang datang ke lokasi KPM hanyalah dosen pembimbingnya saja…”. Sontak, sambutan Kepala Desa ini diapresiasi dengan tepuk tangan panjang dari seluruh yang hadir di halaman Balai Desa Tirtomoyo tersebut. “Saya mewakili masyarakat merasakan sekali manfaat program ini, terutama bagi para pengrajin suttlekock, yang mendapatkan inovasi teknik dan mesin melurukan bulu. Oleh karenanya, saya berharap wilayah ini kembali menjadi tempat pelaksanaan KPM bagi mahasiswa UWG”, demikian harap Kepala Desa yang berpostur tinggi besar ini.
Dalam sambutannya, Candra Aditya, Ketua LPPM UWG menyampaikan bahwa program kerja mahasiswa di Desa Tirtomoyo yang dirangkum dalam sebuah buku ini, ke depannya akan dijadikan luaran wajib bagi pelaksanaan program KPM UWG, juga video pelaksanaan kegiatannya. “Ini bagus untuk sarana promosi dan publikasi…”, demikian Candra Aditya. “Bukan hanya untuk UWG, tetapi juga untuk Desa Tirtomoyo dengan segala potensinya, yang salah satunya adalah suttlekock”, imbuhnya.
Setelah mendengarkan presentasi seluruh program kerja yang dilakukan oleh para mahasiswa, Rektor UWG memberikan sambutan:” Banyak manfaat didapat dengan program KPM ini, termasuk kunjungan rektornya. Sudah jadi bagian program KPM, bahwa rektor akan mengunjungi para mahasiswa yang melakukan KPM. Yang paling utama adalah silaturahmi, agar perguruan tinggi tidak menjadi menara gading bagi masyarakat awam. Bagi para mahasiswa, program pengabdian kepada masyarakat ini adalah ajang untuk transfer teknologi dan memancing seluruh potensi yang dimiliki. Kalau di kampus hanya otak kiri yang diasah, maka terjun ke masyarakat ini merupakan hasil karya otak kanan, sehingga ada keseimbangan peran antara otak kiri dan otak kanan”. Pada akhir sambutannya sebelum Rektor UWG menarik pulang para mahasiswa kembali ke kampus, Iwan Nugroho mengingatkan agar para mahasiswa tetap memelihara silaturahmi dengan masyarakat, apa yang telah dilakukan akan menjadi amalan mereka dan mereka akan terus mendapatkan pahalanya manakala program-program yang ditinggalkan bermanfaat bagi masyarakat. Tak lupa Rektor UWG berpesan kepada masyarakat untuk menjaga dan memelihara apa-apa yang telah disumbangkan oleh para peserta KPM.
Di akhir acara, sebagai kenang-kenangan, Kepala Desa Tirtomoyo menerima cinderamata sebuah gambar wayang dengan tokoh Bimo dan Kepala Dusun Pulesari mendapatkan sebuah gambar wayang dengan tokoh Pendawa Lima. Rangkaian acara kunjungan Rektor UWG ke Desa Tirtomoyo ini diakhiri dengan makan siang bersama dengan menu yang sangat menggugah selera makan seluruh yang hadir pada pagi hari itu.
Dari Desa Tirtomoyo, rombongan Rektor UWG bergeser ke Desa Pakis Kembar yang masyarakatnya memiliki potensi usaha tahu, bordir dan krupuk uyel. Dalam presentasinya, para mahasiswa telah membuat program yang merupakan jalan keluar bagi permasalahan yang selama ini dihadapi oleh masyarakat. Di usaha krupuk, permasalahan ketebalan krupuk mampu diatasi dengan menyisipkan sebuah alat yang disebut inventer pada mesin pencetak krupuk, dimana alat ini berfungsi mengatur ketebalan krupuk pada saat dicetak. Di usaha tahu, mahasiswa berhasil membuat sebuah gapura yang menjadi petunjuk bahwa wilayah tersebut merupakan sentra industri tahu.
Disamping program fisik dan ekonomi yang merupakan upaya pemberdayaan masyarakat sebagaimana tema KPM ini, program sosial pun dilakukan oleh para mahasiswa. Karena di wilayah tersebut banyak rumahtangga yang memiliki usaha, maka sosialisasi K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) menjadi targetnya. Disamping itu program sosial lainnya adalah memasang sambungan listrik pada sebuah gedung yang selama ini menjadi tempat TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) bagi anak-anak di Desa Pakis Kembar. Kebergantungan TPQ pada aliran listrik sebagai penerangan bagi para santrinya terhadap aliran listrik dari rumah-rumah sekitar, kini tidak terjadi lagi. Mahasiswa KPM berhasil membuat sambungan listrik berdaya 900 watt yang dapat dimanfaatkan secara bebas bagi penerangan gedung TPQ tersebut.
Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Desa Tirtomoyo, Kepala Desa Pakis Kembarpun berharap wilayah mereka menjadi tempat KPM lagi dari UWG. “Masih ada satu permasalahan yang sampai saat ini belum terpecahkan oleh masyarakat, yaitu bagaimana mengelola limbah tahu. Selama ini masyarakat membuang limbah tahun ini ke sungai kecil yang mengalir di wilayah ini. Kondisi ini tentunya sangat tidak higienis bagi lingkungan karena pencemaran lingkungan tidak dapat dihindari. Oleh karenanya kami sangat berharap, bahwa kami mendapat kesempatan lagi untuk menjadi tempat pengabdian bagi mahasiswa dari Universitas Widyagama Malang…” (Rita/UIP)



