INOVASI MAHASISWA UWG: MESIN PEMECAH KEDELAI

by | Feb 14, 2018 | Berita | 0 comments

(UWG, 14/02/2018). Kebaruan sebuah inovasi tidak saja dalam arti dari sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada. Sebuah perubahan berupa penambahan, pengurangan dan perubahan bentuk dan ukuran, juga berarti sebuah inovasi manakala membuat performance sebuah kegiatan menjadi lebih baik. Inilah yang dilakukan oleh mahasiswa Kampus Inovasi Universitas Widyagama Malang saat melakukan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM)  di Desa Watugede Kecamatan Singosari Kabupaten Malang beberapa waktu yang lalu. 

Adalah Ibu Binti. Pengrajin tempe bungkus daun pisang. Produk yang tergolong sudah langka di pasaran. Karena keterbatasan ekonomi, proses produksi tempe yang sudah cukup lama ditekuni ini berlangsung dengan sangat sederhana, meskipun permintaan cukup besar dan kontinue. Mesin pemecah kedelai sebagai alat utama yang membantu proses produksi tempe memang sudah dimiliki meskipun secara ekonomis nilainya sudah terkikis oleh penyusutan. Kondisi mesin yang seperti itu tentunya tidak hanya berdampak pada proses produksi yang tidak efektif efisien, tetapi berdampak juga pada kualitas produk yang dihasilkan dan keselamatan pelaku usaha.

Peserta KPM 2018-1 UWG tergerak untuk membantu menyempurnakan alat produksi vital tersebut. Maka dilakukanlah redesain terhadap mesin tersebut. “Ada beberapa komponen yang kami sempurnakan, yaitu corong tempat kedelai yang akan dipecah (dari plastik bekas tempat cat menjadi corong berbahan stainless), tutup batu penggiling, penampung hasil gilingan, tutup motor dan pipa penyeting,” jelas Yudi Purwono, mahasiswa Fakultas Hukum, sang ketua kelompok. “Kami juga melakukan penataan kembali instalasi listriknya agar proses produksi tidak membahayakan pekerja. Awalnya kabel-kabel listrik ini terpasang dengan kesan seadanya sehingga seringkali pekerja tersengat aliran listrik pada saat proses produksi berlangsung atau pada saat mesin akan dihidupkan,” imbuh Helmi Yahya, salah satu anggota kelompok. Dengan redesain ini terdapat beberapa kelebihan mesin pemecah kedelai ini dibandingkan dengan mesin yang lama, antara lain proses produksi menjadi lebih higienis dan keselamatan pekerja lebih terjamin.

Keistimewaan tempe bungkus daun produk Ibu Binti ini antara lain adalah digunakannya ragi alami yang berbahan dasar daun Waru Lengis. “Keluhan lain bu Binti adalah mulai kesulitan mencari daun Waru Lengis karena semakin menurunnya produktifitas pohon Waru Lengis yang dimiliki,” jelas Devi Nurul Qomariah, mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi yang didapuk menjadi sekretaris selama sebulan penuh pelaksanaan KPM tersebut.

Dari keluhan ini maka para mahasiswa menginisiasi pembudidayaan pohon Waru Lengis. “Kades Watugede mengijinkan kami untuk menanam pohon Waru Lengis ini di area lapangan desa. Disamping untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang memproduk tempe, diharapkan pohon-pohon ini nanti dapat lebih menghijaukan wilayah sekitarnya,” imbuh dara manis ini. Penanaman Waru Lengis dilakukan dengan melakukan penyetekan yang bahannya diambil dari bagian batang pohon yang sudah ada.

Penulis ikut merasakan lezatnya tempe bungkus daun karya warga Desa Watugede ini. “Sudah lama saya tidak merasakan nikmatnya sayur lodeh yang dicampur tempe bosok (busuk),  karena kebanyakan tempe saat ini kalo dibiarkan tidak membusuk tetapi mengering, keras dan mengecil,” jelasnya. (san/pip/red:rh)

 

Berita Terbaru UWG