{"id":15002,"date":"2021-05-13T18:47:43","date_gmt":"2021-05-13T11:47:43","guid":{"rendered":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/?p=15002"},"modified":"2021-05-13T18:47:43","modified_gmt":"2021-05-13T11:47:43","slug":"tiga-doktor-fh-uwg-turun-gunung-mengajar-sd-terpencil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/2021\/05\/13\/tiga-doktor-fh-uwg-turun-gunung-mengajar-sd-terpencil\/","title":{"rendered":"TIGA DOKTOR FH-UWG TURUN GUNUNG, MENGAJAR SD TERPENCIL"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-large wp-image-15003\" src=\"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/IMG-20210513-WA0070-1024x509.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"509\" \/>Mereka adalah sang dekan Dr. Purnawan Dwikora Negara, SH, MH; al ustadz Dr. Lukman Hakim, SH, MHum dan sang pengacara Dr. Zahir Rusyad, SH, MHum. Program yang pertama kali dilaksanakan pada Bulan Ramadhan Tahun 2021, bersamaan dengan Dies Natalis ke-50 tahun Kampus Inovasi Universitas Widyagama Malang ini, dirancang akan menjadi program unggulan tahunan fakultas yang punya jargon Legal Spirit ini. \u201cKami ingin memberikan dan memiliki makna lebih dimata masyarakat,\u201d demikian kata Purnawan.<\/p>\n<p>\u201cSebagai lembaga pendidikan tinggi, Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang memandang perlu bahwa memberikan sentuhan spirit cita-cita pada anak-anak sekolah, terutama di desa terpencil. Bukan hanya gurunya, namun banyak orang di luar sana yang mampu meraih cita-cita tingginya, setidaknya dapat menjadi kenangan alam bahwa sadar siswa untuk selalu mengingatnya,\u201d imbuh dekan berkaca mata plus ini.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-large wp-image-15004\" src=\"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/IMG-20210513-WA0068-1024x525.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"525\" \/>Tanggal 28 dan 29 April 2021 adalah moment pertama tiga doktor FH UWG ini tampil di hadapan sisa-siswi Sekolah Dasar Taji I Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, sebuah sekolah di Kawasan terpencil perbatasan antara Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan Kabupaten Pasuruan. \u201cDua hari pertama memberikan kesan yang luar biasa. Bukan hanya bagi kami, tetapi juga bagi para siswa dan sekolah. Ada harapan dari sekolah kami akan kembali lagi dan ini sudah menjadi komitmen kami. Setelah lebaran kami akan kembali, tentunya menyesuaikan program sekolah,\u201d jelas Yoes, panggilan akrab untuk Dr. Zahir Rusyad, SH, MHum. Kegiatan yang melibatkan siswa\u00a0 kelas V (16 siswa) dan VI (7 siswa) ini memperoleh sambutan yang antusias\u00a0 dan mendapat dukungan sepenuhnya dari Kepala Sekolah, Khoirul Huda serta Kepala Desa Taji, Didin Siswanto.<\/p>\n<p>Ide mengajar anak-anak sekolah dasar dan di desa terpencil ini muncul atas dasar pandangan bahwa memberi dasar pemahaman hukum kepada siswa sekolah dasar sangatlah penting, namun\u00a0 tidak mengajar tentang teks undang-undang, tetapi melalui pendidikan budi pekerti. \u201cJanganlah memandang remeh pendidikan budi pekerti bagi anak-anak pada usia (amat) dini sebagai bagian dari pendidikan hukum,\u201d tekan Purnawan.<\/p>\n<p>\u201cPerilaku disiplin, antri, jujur, menghormati teman, kesantunan, adalah contoh-contoh pendidikan hukum yang <em>par exellence<\/em>. Maka, pendidikan hukum yang ideal adalah yang langsung menohok substansi perilaku, tanpa perlu menyebut kata \u201chukum\u201d sama sekali. Menyuruh anak- anak membaca teks undang-undang adalah pendidikan hukum yang buruk,\u201d demikian penjelasan Lukman Hakim. \u201cMana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan dapat diajarkan kepada anak-anak, tetapi bukan dengan membaca teks. Memberikan alasan substansial kepada anak-anak mengapa harus antri, jujur, dan sebagainya, sangatlah esensi. Kita jangan mengajarkan perintah dan larangan dengan mengutip teks undang-undang. Ajarkanlah budi pekerti hukum, bukan teks hukum. Tampilkan perilaku manusia, bukan undang-undang,\u201d tambah Lukman.<\/p>\n\n<p>FH-UWG menengarai belakangan ini perilaku-perilaku yang mengarah pada keterpurukan, keambrukan (collapse) hukum semakin menguat di depan mata. Kita membutuhkan cara-cara progresif untuk membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan itu. Cara itu adalah dengan mereparasi perilaku buruk manusia Indonesia. Memberi dasar perilaku budi pekerti pada siswa SD menjadi penting. Manusia Indonesia perlu diobati lebih dulu dari aneka penyakit mentalitas menerabas, tidak menghargai mutu, ingin cepat berhasil tanpa usaha, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, dan lain-lain.<\/p>\n<p>\u201cLangkah teraputik inilah yang ditransformasikan menjadi pendidikan hukum substansial (budi pekerti), sebelum masuk ke pernak-pernik perundang-undangan, prosedur, sistem dan sebagainya.<br \/>\nMateri pengajaran yang disampaikan secara sederhana seperti misalnya mengajarkan cara menghormat orang tua dengan cara mencium tangan yang benar, tidak menaruh di kening atau pipi. Begitu pula permainan dengan metode puzle yang menggambarkan rangkaian ceritera seperti menyayangi teman, gotong royong, menghormati yang lebih tua, menyayangi lingkungan,\u201d demikian Yoes ikut menambahkan. (san\/pip\/red:rh)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mereka adalah sang dekan Dr. Purnawan Dwikora Negara, SH, MH; al ustadz Dr. Lukman Hakim, SH, MHum dan sang pengacara Dr. Zahir Rusyad, SH, MHum. Program yang pertama kali dilaksanakan pada Bulan Ramadhan Tahun 2021, bersamaan dengan Dies Natalis ke-50 tahun Kampus Inovasi Universitas Widyagama Malang ini, dirancang akan menjadi program unggulan tahunan fakultas yang [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[7],"tags":[2037,2038],"class_list":["post-15002","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita","tag-mengajar-sd-terpencil","tag-tiga-doktor-fh-uwg-turun-gunung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15002","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15002"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15002\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15002"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15002"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/transitmig.cordelia.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15002"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}