Dosen FH UWG dalam Diskusi Santai Bahas Dampak Deforestasi di Jawa Timur

oleh | Jun 6, 2024 | Berita | 0 Komentar

Malang, 6 Juni 2024 – Toko Buku TOGAMAS Malang menjadi saksi diskusi santai yang digelar pada malam 5 Juni 2024, dengan menghadirkan Dr. Purnawan Dwikora Negara SH MH, dosen Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang (FH UWG), bersama rekan media dan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur, Wahyu Eka Setyawan. Acara ini diselenggarakan oleh Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) Simpul Jawa Timur dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dalam bidang lingkungan dan jurnalisme.

Dalam diskusi tersebut, Dr. Purnawan Dwikora Negara, yang juga merupakan pakar hukum lingkungan dari Universitas Widyagama Malang, menyampaikan pandangannya tentang dampak deforestasi hutan lindung di kaki Gunung Semeru terhadap menyusutnya sumber mata air. “Jawa mengalami kondisi ekologi yang semakin kritis, stop deforestasi untuk alasan apapun,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa beberapa mata air di Kota Batu telah banyak yang mati akibat deforestasi.

Ancaman deforestasi tidak hanya terjadi di kaki Gunung Semeru, tetapi juga di Malang Selatan, di mana hutan lindung telah berubah menjadi kebun tebu dan perkebunan sawit. Dr. Purnawan menyoroti bahwa perkebunan sawit sangat rakus air dan dapat mengancam kawasan karst di Malang Selatan.

Miftah Faridl, seorang jurnalis yang turut hadir dalam diskusi tersebut, menekankan pentingnya gerakan dan laporan jurnalistik yang mendalam untuk mencegah kerusakan lingkungan. Ia berbagi pengalamannya dalam membuat laporan jurnalistik investigasi deforestasi hutan Kalimantan berjudul “Melawan Penjagal Hutan Kalimantan”. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 33 ribu hektare hutan di Kalimantan telah dibabat untuk perkebunan sawit dan akasia, yang berakibat pada hilangnya ruang hidup masyarakat adat dan habitat orang utan.

“Mereka bergantung dari hutan, beberapa ritus tak bisa dilakukan jika hutan hilang,” kata Faridl. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya, masyarakat adat bisa bercocok tanam, mencari ikan, dan berburu di hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun, dengan hilangnya hutan, kehidupan mereka kini terancam.

Diskusi yang dipandu oleh Muhammad Miftah Faidl, jurnalis CNN Indonesia TV, ini menjadi ajang tukar pikiran dan pengetahuan yang berharga dalam upaya mencegah deforestasi dan menjaga kelestarian lingkungan di Jawa Timur. Wahyu Eka Setyawan, Direktur Eksekutif WALHI Jawa Timur, juga menekankan pentingnya kerjasama antara berbagai pihak untuk menghadapi tantangan lingkungan ini.

Melalui diskusi ini, diharapkan dapat terbangun kesadaran dan aksi nyata dari masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk menghentikan deforestasi dan menjaga ekosistem yang ada demi masa depan yang lebih baik.(san/pip)

Berita Terbaru UWG